Blinking Hello Kitty Angel Jurnal Bunga Matahari

Selasa, 27 Agustus 2019

Waktu Luang

Tanpa disadari,
kamu meluangkan waktu hanya untuk orang-orang yang berarti.
Meskipun terdengar sederhana, waktu luangmu itu berharga.
Dan hanya kamu beri pada orang yang sama berharganya.
Kesempatan kesempatan yang kau tolak itu kemungkinannya hanya karena kamu tidak mampu atau tidak mau.
Namun untuk mereka yang bagimu segalanya, ketidakmampuan dan ketidakmauan itu mudah sekali sirna. Bagimu menjaga perasaan mereka dan waktu luangmu itu sama harganya sehingga ditukar pun tak apa.
Sadarilah bahwa ini dilakukan hampir semua manusia.
Maka, hargai mereka yang untukmu mereka meluangkan waktu.
Dan jangan terlalu berharap pada mereka yang memang prioritasnya bukan kamu.
Semua orang berhak memilih,
termasuk siapa yang mau mereka jaga hatinya.

Minggu, 25 Agustus 2019

Selamat datang

Selamat datang di fase usia 20 tahunan.
Fase ketika hal pertama yang harus kamu pelajari adalah mengenai penerimaan.
Menerima bahwa respon orang lain atas masalah-masalah tidak selalu sesuai dengan harapan.
Menerima bahwa tidak selalu orang lain bisa kamu andalkan bahkan sekedar untuk mendengarkan.
Dan masih banyak hal yang hari kamu terima tentang soal menyoal kehidupan.

Kamu harus bisa berdiri tegap dengan kaki sendiri.
Tidak tertatih, dan berpegangan hanya kepada yang menciptamu.
Jangan terlalu banyak berekspektasi.
Bagaimana pun, kejutan lebih menyenangkan dibanding kekecewaan.

Jangan terlalu banyak mencipta khayalan.
Kehidupan tidak selalu seindah yang dibayang tapi juga hal buruk tidak selalu menghadang.
Jalani saja yang ada.
Berusaha mewujudkan tujuan diciptakannya dirimu di dunia karena itu pasti yang terbaik.



Jumat, 19 April 2019

Jerawat: Pertanyaan "Kenapa" itu Akhirnya Hilang


Kalau ditanya, “pernah gak sampai titik putus asa, sedih, marah, campur aduk jadi satu?”
Jawabannya, “pernah.”
***
Dulu wajahku baik-baik aja. Sampai kelas delapan atau kelas dua smp masih sangat amat mulus sampai-sampai ditanya “Pakai apa, sih? Kok gak pernah jerawatan?” dan aku yang memang belum pernah menggunakan skincare  apapun selain sabun pencuci muka ya cuma bisa jawab, “Eh? Nggak pake apa-apa..”

Iya, itu jawaban jujur. Bukan jawaban cewek-cewek dengan segambreng skincare tapi kalau ditanya pertanyaan yang sama bakal jawab, “Enggak kok, cuma pake air wudhu aja,” sambil senyum manis. Kalau begitu, ya, mari berhusnudzon mungkin dia wudhu dengan SK2 atau air wudhunya memang ajaib. Bukan air pdam atau air sumur.

Anak perempuan yang masih duduk di kelas delapan itu memang sangat buta soal skincare-skincare-an. Pokoknya tiap mandi pagi sama sore cuci muka, terus kalau mau pergi pakai bedak supaya gak kelihatan pucat akibat lengkungan hitam di bawah mata yang entah kenapa sampai sekarang pun gak bisa hilang. Jadi kadang dalam keadaan sehat pun pasti ditanya “lagi sakit ya?” apalagi pas sakit. Gak usah ngomong tinggal memasang tatapan kosong aja orang-orang sudah tidak akan membuka mulut untuk mengusik.

Di tengah ketidakpahaman itu, tiba-tiba munculah sang tokoh utama dalam cerita ini. Jerawat. Awalnya cuma muncul satu dua di pipi, lalu di dahi, lalu di dagu. Hingga akhinya sadar kok semakin lama semakin banyak.

Mulai deh, panik. Jerawat itu sangat mengganggu penampilan, apalagi di kulit super tipis bin sensitif ini. Kulitku  bisa dibilang ‘tipis’ karena kalau kalian teliti, kalian bisa melihat gurat-gurat pembuluh darah wajah di bagian pipi dan kalau kulitnya kepanasan, tertekan atau ditekan, mudah banget berubah menjadi merah. Apalagi dengan adanya jerawat. Jerawatnya belum ‘mateng’ aja udah meraaaah banget bintiknya.

Semenjak muncul jerawat-jerawat kecil dan kulitku jadi sering terlihat memerah, mulut orang-orang kayaknya udah mulai gatal untuk tidak berkomentar. Aku masih inget banget, komentar pertama itu muncul dari salah satu guru ketika lagi upacara kelulusan.
“Kok Afifah jadi jerawatan? Mikirin cowok ya?”
“....”

Maafkan aku ibu guru, tapi itu komentar yang paling membuatku mengernyitkan dahi dan bahkan sampai sekarang aku gak tahu korelasi mikirin cowok sama jerawatan. Tapi ya yang keluar dari mulut saat itu cuma, “Hehe, gak tau bu..”

Beranjak ke SMA, jerawat di wajah bukannya semakin berkurang malah semakin banyak kayaknya.  Berbanding terbalik dengan kadar kepercayaan diri apalagi kalau liat temen-temen yang wajahnya mulus dan baik-baik saja. Saat itu, jerawatnya kebanyakan muncul di dahi dan di pipi. Bahkan, ketika ada pemeriksaan kesehatan rutin di sekolah, satu-satunya permasalahan yang tertulis di kertas hasil pemeriksaan cuma satu, ‘acne’ . Iya, alhamdulillah gak ada masalah kesehatan serius. Tapi kok ya, bikin sedih juga.

Pokoknya selama SMA, jerawat masih datang dan pergi. Lebih gampang datangnya sih, perginya susah banget. Apalagi bekasnya. Tapi, karena masih masa pubertas, aku gak terlalu keberatan dan yaudah, mengatasinya cuma dengan cara rajin cuci muka dua kali sehari, pakai obat jerawat, terus sesekali pakai masker khusus untuk jerawat. Lumayan mengatasi sih, tapi ya belum hilang sepenuhnya.

Hingga tiba masa kuliah dan kekhawatiran tentang jerawat yang gak hilang-hilang semakin menjadi. Sampai di satu titik merasa bahwa jangan-jangan bukan hanya karena faktor polusi dan semacamnya aja jerawat itu muncul, tapi ada faktor lain. Akhirnya, cari-cari referensi di website-website kesehatan dan kecantikan yang terpercaya. Ternyata memang ada faktor lain yang kemungkinan menjadi penyebabnya. Saat itu faktor paling banyak yang ditemui adalah: faktor dari dalam kulit a.k.a kadar sebum, hormon dan semacamnya, faktor genetik, faktor makanan dan faktor psikologis seperti stres dan semacamnya.

Entah kenapa aku gak terlalu peduli dengan faktor pertama dan kedua karena hal itu sesuatu yang menurutku gak bisa diubah lagi. Akhirnya, aku memilih untuk melakukan ’uji coba’ terhadap faktor ketiga dan keempat. Dan hasilnya? yang terlihat siginfikan hanya faktor keempat, yakni faktor psikologis, sedangkan segala macam usaha mengurangi bahkan gak mengonsumsi makanan yang katanya menyebabkan jerawat itu gak memberi hasil yang signifikan.  

Setiap mulai merasa stress atau overthinking, pasti besoknya muncul satu atau dua jerawat. Gak tahu juga apakah itu sebuah sugesti atau nggak. Tapi itu juga yang susah untuk dihindari. Apalagi ya salah satu penyebab stress-nya ini si jerawat sendiri.

Terus kapan titik terendah ketika merasa capek, kesel, hampir putus asa dalam menghadapi jerawat?

Kalau diukur dengan waktu, ya mungkin setelah lulus sma dan memasuki dunia perkuliahan. Entah kenapa sepertinya orang-orang mulutnya semakin gatal untuk tidak berkomentar dan mungkin, mereka merasa itu hanya basa-basi atau bercandaan. 

Masih inget banget ketika di sebuah acara, baru ketemu lagi dengan salah satu teman SMA yang setelah lulus jarang ketemu, dan pertanyaan pertama yang dia lontarkan adalah  “Kok kayaknya jerawatmu gak hilang-hilang, sih?” 
Sejak saat itu, pertanyaan semacam itu atau “Kayaknya jerawatnya makin banyak ya?”  bukan lagi sekedar basa-basi, menurutku.

Temanku sayang, kalau kamu baca ini dan sadar bahwa orang tersebut adalah kamu lalu kamu berdalih dengan mengatakan, “Tapi kamu gak marah, kok, pas ditanya. Jadinya kan aku gak tahu kalau kamu gak suka ditanya gitu..”

Ya..apa lagi yang bisa dilakukan ketika ada orang yang bertanya seperti itu selain cuma cengengesan dan jawab, “Iya nih, gak tau, kenapa ya..?”
Karena aku bener-bener gak tahu kenapa, hehe.

Ditambah lagi ketika orang-orang mulai berkomentar “Makanya jangan banyak makan makanan yang berlemak”, “Jangan terlalu suka makan pedes-pedes”, “Jangan males cuci muka” . Anak yang super awkward kalau ngobrol sama orang ditambah dihakimi begitu ya paling maksimal cuma bisa senyum getir, iya-iya aja. Padahal dalam hati pingin menjelaskan panjang kali lebar. Tapi keinginan pingin marah itu selalu kalah sama perasaan yang bilang,

Gapapa, mereka kan gak tahu kalau kamu udah pernah mencoba berbagai cara termasuk untuk gak makan segala macam pantangan yang kata orang sebagai penyebab munculnya jerawat dan hasilnya ternyata gak menunjukkan sesuatu yang signifikan.  

Gapapa, kan gak penting juga untuk mereka ketahui kalau kamu dari dulu udah rajin cuci muka dua kali sehari dan kamu tahu kamu pun gak boleh cuci muka terlalu sering. Gak usahlah ya, dijabarin alasannya kenapa. Mereka kan pintar-pintar. Bisa aca sumber-sumber terpercaya. Cuci muka itu paling nggak dua kali sehari atau tiga kali masih bolehlah, kalau memang dibutuhkan. Sabun itu, membuat sebersih apapun mukamu, tetap aja ada bahan kimianya.

Gapapa. Mereka nggak tahu. Gapapa. Mereka gak tahu.  Gapapa. Mereka nggak tahu.

Gitu aja terus sampai wisuda. Iya, beneran sampai wisuda. Coba tanya siapapun, meskipun katanya jutek, yang namanya Afifah ini gak pernah marah kalau ada yang menyinggung-nyinggung soal jerawat.

Di tengah-tengah masa perkuliahan, alhamdulillah jerawat-jerawat di wajah semakin berkurang. Intensitas munculnya udah gak sesering dulu dan bekas-bekasnya pun lebih cepat memudar.
Tapi entah namanya juga mulut manusia, masih ada aja yang komentar. Ada teman yang dengan lancarnya menyeletuk, “sekarang mah mukanya bersihan yaa, dulu mah kan jerawat dimana-mana.”

Hehe.

Hingga akhir perkuliahan, kondisi wajahku semakin stabil. Masih ada sih, satu dua jerawat yang kembali muncul kalau udah mulai banyak pikiran atau memang sedang mau datang masa haid. Tapi, walaupun muncul dalam jumlah cukup banyak, biasanya gak terlalu lama dan bekasnya juga cepat hilang. Aku juga semakin tahu dan bisa memilih produk perawatan wajah apa yang cocok.

Dan, entah, tiba-tiba dapat pemikiran yang positif. Gak tiba-tiba sih, pasti datangnya dari Allah juga. Bahwa sesuatu yang terlihat buruk di mata manusia itu terkadang merupakan jalan menuju sesuatu yang baik. Dan ini juga mungkin yang bisa jadi adalah jawaban atas pertanyaan yang dulu pernah dilontarkan diri sendiri, “kenapa harus muncul jerawat? kenapa harus aku yang ngalamin ini? kenapa gak hilang-hilang? Kenapa orang bisa cepet banget sembuh dari jerawat sedangkan aku nggak?” dan masih banyak pertanyaan “kenapa” lainnya.

Ternyata alasannya menurutku, banyak.

Pertama, dari situ aku belajar untuk mencintai diri sendiri dengan sepenuh hati. Aku pernah selalu ngerasa sedih setiap ngaca. Iya, sejahat itu sama diri sendiri. Gak bersyukur, ya?
Tambah tertohok lagi setelah mendengar dari seseorang yang bilang, jangan terlalu sibuk mencari cara untuk menghilangkan kekurangan fisik, contohnya ya itu, jerawat, sampai-sampai lupa bahwa lebih penting mencari cara menghapus dosa. Hiya, kena deh. Ampun.

Kedua, karena sudah mengalami jerawat dari masa smp, aku gak pernah sempat kepikiran nyoba berbagai make-up karena takut itu bakal memperparah jerawatnya. Jadi, gak pernah kepikiran untuk mencoba apapun itu bahkan lipstick yang gak kena kulit. Kenapa? ya karena udah terlanjur malas dan gak percaya diri. Aku selalu berpikir “yaudah gitu mau pake apa aja, tetap aja orang pasti liat kurangnya.” Tuh kan, jahat banget sama diri sendiri.  Meskipun bermunculan makeup yang aman untuk kulit berjerawat semacamnya. Aku tetep aja takut. Semacam memilih untuk tetap bertahan di zona aman. 

Akhirnya sampai sekarang yang digunakan sehari-hari ya cuma skin-care. Toner, moisturizer, sunscreen, bedak. Udah, itu tok. Make-up paling dipakai ketika acara-acara penting seperti wisuda itupun setelah diprotes orang-orang karena ketika gladiresik yang lain cantik-cantik, muka ku polosan kayak anak kuliah kesiangan jadi gak sempet dandan. Jadi, gak perlu pusing-pusing soal shade-shade make up beserta segala macam printilannya dan...dompetku pun aman, hehe. Semua itu cuma berawal dari takut make-up memperparah jerawatnya. Pas paham bahwa kalau perempuan itu gak boleh pakai riasan yang mencolok pun, ku bisa bernafas lega.

Tapi pasti ada aja yang nanya,
kan untuk beberapa keadaan gak mungkin tampil kusam dan gak pakai make-up? 
Ya...gimana ya...menurutku menghilangkan kusamnya itu cukup dengan bedak aja. Udah ngerasa ‘seger’ aja, gitu. Kalau orang lain melihatnya kurang ya, yo wes rapopo. Aku tetep lebih milih berhati-hati.  

Ketiga, mungkin, munculnya jerawat-jerawat ini salah satu cara yang Allah kasih supaya aku dapat lebih memahami orang lain dalam kasus yang sama.
Lebih tepatnya soal menjaga perasaan orang lain.
Ku jadi ngerti, bahwa orang yang jerawatan itu belum tentu karena dia gak menjaga kebersihan, belum tentu karena gaya hidupnya gak sehat, dan belum tentu dia bisa menerima sepenuhnya keadaan tersebut. Gak ada yang berhak untuk menilai atau bahkan menghakimi. Kalau dibuat poin-poin, mungkin kurang lebih seperti ini:
  •     Kalau kamu lagi bicara dengan orang yang berjerawat, jangan arahkan pandangan kamu ke bagian wajahnya yang berjerawat. Tatap mata dia seperti biasanya. Ku memang bukan orang yang bermasalah dengan itu, tapi ternyata gak semua orang juga bisa menerima itu.
  •    Jangan pernah menghakimi dengan kata-kata, “Kamu gak rajin cuci muka kali”, “Kamu kebanyakan makan gorengan”, “Kamu jorok ya?” dan semacamnya. Mungkin kamu pikir kamu terlihat pintar, tapi sebenarnya enggak, sayang.
  •    Lebih baik beri saran. Seperti halnya aku lebih suka mendengar kalau ada teman yang menyarankan untuk pakai skincare ini, skincare itu, coba makan ini, coba makan itu. Walaupun gak langsung aku praktekkan karena bisa jadi hal itu kurang cocok, tapi setidaknya itu lebih terdengar perhatian dan bisa jadi bahan pertimbangan ketimbang cuma mengomentari kenapa jerawatnya makin banyak.
Saran “yang penting rajin cuci muka” itu bisa jadi saran yang baik, tapi juga bisa jadi saran yang buruk. Ya intinya, lihat dulu karakteristik, kepribadian, kebiasaan, dan segala macamnya yang berkaitan dengan orang yang kamu kasih saran ini. Kalau kamu lihat dia memang suka skip cuci muka atau memang mageran. Sok, kasih saran begini gapapa. Itu juga bisa menghapus kekhawatiran seseorang kalau disampaikan dengan nada yang baik. Tapi, kalau orangnya memang udah rajin, takutnya dia menelan mentah-mentah saran kamu dan salah paham. Dia bisa cuci muka lima kali sehari setiap mau sholat, misalnya, kan bahaya. Mencuci muka dua kali sehari itu sudah rajin namanya. Sekarang udah banyak kok sumber terpercaya yang bisa kamu baca tentang baiknya cuci muka itu berapa kali sehari. Terlalu banyak mencuci muka itu bisa mengakibatkan turunnya kadar sebum dan itu gak baik juga.

Salah juga kalau kamu ngasih saran seperti itu dengan nada yang mengintimidasi. Berdasarkan pengalaman, ada beberapa orang yang mengatakan hal ini dengan nada kurang menyenangkan sehingga membuatku berpikir sepertinya dia merasa aku ini manusia paling jorok sedunia.

Gapapa, mereka cuma gak tau kalau manusia ini pas kecilnya pernah mengalami suatu masa ketika setiap abis pegang apa-apa yang menurut dia kotor langsung cuci tangan pakai sabun. Yang menurutnya kotor ya, bukan sudah jelas-jelas kotor. Sampai akhirnya dia capek dan marah-marah sendiri. Bahkan, sampai sekarang terkadang gak mau menyentuh sesuatu yang menurutnya kotor. Misalnya, gagang pintu, remote, meja, apapun. Kalau menurutnya kotor, manusia ini cuma akan megang barang tersebut pakai ujung dua atau tiga jari. Misalnya harus buka/tutup pintu atau mindahin meja, ya didorong aja gitu pakai bagian tangan yang lain atau dengan badan. Sampai pernah ayah gemas karena pas nyuruh ngangkat meja kecil tapi karena menurutku mejanya kotor ya ku angkat pelan-pelan dengan dua jari, kayak capit gitu lho, kebayang kan berapa lama ngangkatnya? Setelah itu ayah milih ngangkat sendiri dan meninggalkan anaknya dengan pandangan ya-gimana-ya-yah, gitu.  

Intinya, siapa pun kamu, kalau kamu juga seorang acne fighter dan baca ini, yuk, tos dulu belajar mencintai diri sendiri apa adanya dengan segala kekurangannya. Ya karena mencintai kelebihan itu sangat mudah, jadi gak usah berusaha keras juga pasti bisa, kan?
Merasa sedih, sebal, atau semacamnya pada awalnya itu wajar, menurutku. Gak tau kalau menurut orang lain. Tapi, kalau berlarut sampai membenci diri sendiri itu rasanya gak baik. Rasa benci kepada diri sendiri itu lama-lama menutupi pandanganmu dari melihat kelebihan-kelebihan yang sudah Allah kasih ke kamu.
Kalaupun, menurutmu, jerawat itu datang karena kesalahanmu, ya, kalau sudah terjadi mau bagaimana lagi? Jalan terbaik adalah berusaha untuk menyembuhkannya, bukan merutuki diri sendiri. Usaha mulai dari pake’ skin care  yang cocok, cobain jaga dan atur pola makan. Tapi, kemaren baru baca artikel jurnal katanya belum ada penelitian lebih lanjut tentang keterkaitan makanan dengan jerawat. Jadi bingung, tapi yaudahlah coba aja namanya juga ikhtiar. Menurut beberapa artikel yang aku baca, faktor utama jerawat itu: 1) Faktor alami dari tubuh, yaitu sel-sel kulit mati, kadar sebum dan hormon; 2) Genetik. Faktor psikologis semacam stress yang biasanya memperparah.***

Satu lagi, semua itu butuh proses. Termasuk proses penyembuhan jerawat-jerawat itu. Dan setiap orang mengalami jangka waktu yang berbeda-beda. Awalnya, ku juga sedih sudah hampir 7 tahun kalau dihitung sejak akhir masa smp, jerawat-jerawat ini muncul dan belum sembuh total hingga saat ini. Tapi, ya, mungkin ini yang namanya proses.
Apalagi  setelah kemarin sempat dengar dari suatu kajian mengenai cerita nabi Ayyub ‘Alaihissalam. Ketika diberi ujian berupa sakit menahun, istri beliau meminta agar beliau berdoa kepada Allah supaya penyakitnya diambil. Nabi Ayyub ‘Alaihissalam bertanya, sudah berapa lama beliau diberi kesehatan. Ketika istrinya menjawab sekian tahun, beliau berkata bahwa dia akan meminta kepada Allah supaya diambil penyakitnya ketika masa sakitnya sudah lebih lama dari masa sehatnya. Sepertinya kalau tidak salah begitu kisahnya, kalau ada yang keliru, ralat ya.

Yaelah, jerawat doang disamain sama kisah sakitnya nabi Ayyub. Lebay amat. Lagian beliau itu Nabi, lah kamu siapa.
Kalau kamu berpikiran begitu, sini, dekatkan telingamu dan akan kubisikkan,
Bukan begitu intinya, malih.

Nabi Ayyub ‘Alaihissalam yang seorang Nabi aja, ‘gak mau’ untuk minta langsung diambil penyakitnya sama Allah karena beliau tahu sudah diberi masa sehat dan nikmat yang lebih lama jangka waktunya.
Lah masa manusia biasa yang masih sering lupa bin masih sering malas bin masih banyak dosa satu ini ngelunjak. Ngelupain banyaknya nikmat yang sudah Allah kasih cuma gara-gara jerawat gak sembuh-sembuh. Paham, malih?

Jadi, inti dari semua ocehan ini, ya itu. Apa.

Setelah ketik, hapus, ketik, hapus lagi dan menimang-nimbang diposting atau tidak, akhirnya tulisan ini ku posting untuk sekadar membagi cerita dan berharap dapat memberi sedikit pencerahan kepada yang membaca. Kalau ternyata tidak memberi pencerahan apalagi motivasi, ya sudah tidak apa-apa. Tapi, kalau kamu sedang berjuang menghadapi hal yang sama dan butuh teman cerita juga boleh menghubungi melalui email. Meskipun, ku tidak selalu bisa memberi solusi, hehe. Tapi kan, tidak semua cerita butuh solusi, terkadang hanya butuh pendengar. Sebuah pembelaan diri.

Jangan sampai jerawat-jerawat itu bikin kamu menganggap remeh diri sendiri. Apalagi berpikir untuk melakukan hal yang enggak-enggak. Bukan berlebihan, ini juga menurut sumber yang ku baca, kok. Bahwa beberapa persen kasus depresi bahkan bunuh diri itu dilakukan dengan alasan ke-tidak-percaya-diri-an karena jerawat. Ditambah dengan bully-an atau tekanan dari teman-teman atau orang-orang di sekitar melalui anggapan –yang sebenarnya belum akurat- bahwa seseorang yang berjerawat itu dikarenakan pola makan yang buruk atau gaya hidup yang jorok.

Ya pokoknya intinya gitu. Sebenarnya aku bingung mau menutup postingan ini dengan kalimat apa lagi.

Dadah. 






***buat yang tidak percaya bahwa manusia mager ini beneran baca sumber terpercaya dulu sebelum nulis, boleh di cek link-nya. 
https://www.pharmaceutical-journal.com/files/rps-pjonline/pdf/cp200904_163.pdf
http://www.westcambridgepediatrics.com/docs/fast%20facts%20on%20acne.pdf
https://www.stonybrookmedicine.edu/sites/default/files/40105134.pdf
https://pedsderm.net/site/assets/files/1028/spd_acne_long_updated.pdf
https://pedsderm.net/site/assets/files/1028/1_spd_acne_short_web_final.pdf
https://www.brown.edu/campus-life/health/services/sites/brown.edu.campus-life.health.services/files/uploads/Acne%2013_0.pdf
masih ada yang lain tapi sepertinya tidak ku simpan linknya, huf.


Sabtu, 09 Februari 2019


Ibu sayang,
Tanggal dua Februari kemarin akhirnya aku berhasil menyelesaikan perkuliahan di tingkat sarjana.
Menggunakan toga dan tak dapat menyembunyikan seutas senyum bangga.
Sebenarnya aku sangat ingin kau melihatku di sana. 

Ibu sayang,
Ibu akan merasa bangga juga, kan?
Anak perempuanmu yang dulu sangat takut untuk memulai sesuatu yang baru, tak bisa pergi jauh darimu, mudah sekali menangis dalam keputusasaan, akhirnya berhasil melewati satu lagi tahap yang sulit
tanpamu.
Pulang pergi dengan jarak yang tidak dapat dikatakan dekat,
Bawaan yang terkadang terlampau berat,
Tak jarang harus pulang ketika gelap sudah pekat.
Rasanya ingin aku menelponmu dan meminta untuk dijemput seperti enam tahun yang lalu di saat hujan lebat.
Ketika keningku berkerut,
Mencoba memahami segalanya dengan runut,
Tapi terkadang akhirnya aku mengalah dan membiarkan semuanya kusut.
Hari-hari ketika sebenarnya aku hampir tak kuat lagi,
Tubuhku lelah, pun jiwaku.
Perasaanku mulai memainkan perannya lebih besar daripada logika.
Keluhan dalam hati menjadi kebiasaan sehari-hari.
Hingga pada suatu waktu aku berusaha untuk tidak peduli,
dan membiarkan ego-ku menyelimuti.
Malam-malam ketika aku hampir menangis,
Tapi aku tahu itu tidak menyelesaikan masalah
Dan sesuatu yang kuusahakan dengan sungguh pasti berbuah indah.
Meskipun tidak ada lagi kentang goreng hangat dan sosokmu yang menemani seperti saat aku berusaha keras menghafalkan rumus fisika untuk ulangan keesokan harinya.

Ibu sayang,
Undangan wisuda diperuntukkan untuk dua orang.
Salah satunya untukmu. Ada satu bangku yang dipersiapkan untukmu.
Aku mau ketika keluar dari ruangan yang pertama kali ku peluk adalah tubuhmu.
Tapi takdir Tuhan, siapa yang tahu.
Namun tak apa, ketidakhadiranmu yang memaksaku untuk belajar jadi wanita yang dapat menguasai ketakutannya.
Tenang saja, banyak orang baik di sekelilingku yang didatangkan oleh Tuhan.

Ibu sayang,
Jika sekitar enam tahun lalu aku berada dalam ketidakyakinan,
apakah bisa aku menjalani semuanya setelah kehilangan.
Sempat terombang-ambing dengan ketidaksadaran.
Aku yang sekarang sangat percaya bahwa raga dan jiwamu saja yang sudah sirna.
Untaian doamu tidak.
Doa yang dipanjatkan bertahun-tahun yang lalu semakin kurasakan.

Ibu sayang,
Aku tak tahu apalagi yang akan ku hadapi
Masalah sebesar apa
Kebahagiaan apa
Kesedihan apa
Tapi sekali lagi, tenang saja.
Jangan khawatir seperti ketika hujan deras membuatku tidak bisa pulang.
Aku semakin kuat, percayalah.
Setidaknya,
Aku berusaha untuk semakin kuat.



Sabtu, 08 September 2018

Kita sudah sama-sama lelah
Tapi jalan masih cukup jauh untuk ditempuh

Sambil menyeka peluhmu, kau bertanya

"Apa lagi yang kau punya?"

"Harapan, kemauan, doa.
dan aku tidak sedang bercanda."

Meskipun kau meragukanku, aku tau
Aku masih ingin membersamaimu.